Rabu, 4 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
ammyui.comammyui.com
ammyui.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Tiap Bulan Duitku Ambles di Jalan, Sampai Sadar In...

Tiap Bulan Duitku Ambles di Jalan, Sampai Sadar Ini Biang Keroknya

Sering traveling bukan alasan dompet selalu kosong. Ini cerita gue membenahi kebocoran pengeluaran saat di perjalanan.

Tiap Bulan Duitku Ambles di Jalan, Sampai Sadar Ini Biang Keroknya

Dulu gue sempat bingung sendiri. Gaji masuk tanggal 25, tapi baru tanggal 5 bulan berikutnya saldo rekening udah kayak habis dibagi rata ke semua warung kopi dan aplikasi transportasi. Padahal gue ngerasa nggak beli barang mahal apa-apa. Nggak ada gadget baru, nggak ada cicilan mendadak. Yang ada cuma perjalanan-perjalanan dinas dan liburan pendek yang rasanya "biasa aja".

Baru sadar belakangan, justru di situlah bocornya. Buat gue yang hampir tiap minggu pindah kota, pengeluaran kecil yang numpuk itu jauh lebih berbahaya daripada satu pembelian besar. Sekali nongkrong di bandara, sekali pesan kopi di stasiun, sekali tambah bagasi — semua kelihatan sepele, tapi totalnya bisa setara satu bulan makan di rumah.

Baca juga: Ceklis 8 Hal yang Sering Ditanya soal Atur Uang di Kampung

Kejadian yang Bikin Gue Sadar

Waktu itu gue lagi di Surabaya buat urusan kerja tiga hari. Rencananya cuma bawa satu tas kabin, jadi nggak perlu bayar bagasi. Eh, di hari terakhir malah beli oleh-oleh sekardus dan terpaksa tambah bagasi di bandara. Ongkosnya? Hampir setara tiket kereta ekonomi ke Semarang. Pulang ke rumah, gue buka mutasi rekening dan kaget sendiri: selama tiga hari itu gue ngeluarin uang lebih banyak dari anggaran seminggu.

Dari situ gue mulai nyatet semua pengeluaran, bukan cuma yang besar. Dan ternyata polanya jelas banget. Ada empat pos yang hampir selalu jadi biang kerok, dan semuanya berhubungan sama kebiasaan saat di perjalanan.

Empat Kebocoran yang Paling Sering Gue Temui

1. Makan karena bosan, bukan karena lapar

Ini yang paling sering. Nunggu kereta delay satu jam, gue pesan makanan cuma biar nggak bengong. Padahal perut baru aja diisi sebelum berangkat. Kalau dihitung, dalam sebulan bisa ada lima sampai tujuh kejadian kayak gini. Nominalnya Rp30 ribu sampai Rp50 ribu sekali makan, tapi kalau dikali terus-terusan, angkanya jadi lumayan banget.

Solusi gue sederhana: bawa camilan sendiri. Roti, buah, atau kacang-kacangan di tas. Nggak cuma hemat, gue juga jadi lebih terkontrol soal porsi makan.

2. Transportasi dadakan yang harganya naik dua kali

Nah, ini yang bikin gue geleng-geleng. Pesan taksi online di menit terakhir, pas jam sibuk, di kota yang nggak gue hafal jalanannya. Tarifnya bisa dua kali lipat dibanding kalau pesan lebih awal atau naik angkutan umum. Gue pernah bayar Rp85 ribu buat jarak yang sebenarnya bisa ditempuh Rp25 ribu pakai bus kota.

Sekarang, sebelum berangkat, gue selalu cek dulu pilihan transportasi di kota tujuan. Nggak harus hafal semua rute, cukup tahu ada kereta bandara atau bus kota atau nggak. Sisanya tinggal nanya ke orang lokal.

3. Pengeluaran "kecil" yang nggak dicatat

Air mineral di minimarket bandara, biaya toilet, parkir, tips, sampai ongkos cetak tiket. Semua kelihatan kecil, masing-masing di bawah Rp20 ribu. Tapi kalau dijumlahin sebulan, gue pernah nemu angka Rp400 ribu lebih cuma buat pos-pos yang nggak pernah gue sadari. Itu setara satu kali servis motor.

Yang bikin bocor bukan pengeluaran besar yang kelihatan, tapi yang kecil-kecil yang kita anggap "ah, cuma segini".

4. Belanja oleh-oleh tanpa daftar

Gue bukan orang yang gampang tergoda belanja. Tapi begitu masuk toko oleh-oleh, tangan ini kayak punya keputusan sendiri. Beli buat kantor, buat tetangga, buat saudara yang sebenarnya nggak minta. Ujungnya bawa pulang sekardus barang yang setengahnya nggak perlu.

Sejak kejadian di Surabaya itu, gue selalu bikin daftar oleh-oleh sebelum berangkat. Isinya cuma orang-orang yang memang wajib dikasih. Di luar daftar, nggak usah dipikirin.

Cara Gue Ngerapiin Pengeluaran Selama di Jalan

Gue nggak pakai aplikasi keuangan yang ribet. Cukup tiga langkah yang gue jalanin konsisten, dan hasilnya lumayan kerasa dalam tiga bulan pertama.

  • Pisahin uang harian dan uang darurat. Gue taruh uang harian di satu rekening atau dompet digital, dan sisanya di rekening terpisah yang nggak gue sentuh kecuali benar-benar darurat. Ini bikin gue lebih sadar batas pengeluaran.
  • Catat pengeluaran di hari yang sama. Nggak perlu detail banget, cukup nominal dan keterangan singkat. Kalau ditunda, pasti lupa. Gue biasain nyatet pas lagi nunggu, misalnya di ruang tunggu atau di dalam angkutan.
  • Evaluasi tiap akhir pekan. Sabtu atau Minggu, gue buka catatan dan lihat pos mana yang paling banyak bocor. Hasilnya sering bikin gue kaget sendiri, tapi justru itu yang bikin gue lebih waspada minggu berikutnya.

Yang paling penting sebenarnya bukan tekniknya, tapi kebiasaan buat sadar. Selama gue nggak tahu uang gue pergi ke mana, seberapa pun gede penghasilan, rasanya selalu kurang. Begitu mulai dicatat, gue jadi tahu mana pengeluaran yang memang perlu dan mana yang cuma impulsif.

Sekarang, tiap kali mau berangkat, gue selalu sempatin lima menit buat cek anggaran dan bikin daftar kebutuhan. Nggak muluk-muluk, cukup tahu batas atas pengeluaran selama perjalanan. Selebihnya, gue nikmatin perjalanannya tanpa drama saldo menipis di tengah jalan.

Kalau kamu juga sering bepergian, coba deh mulai dari satu hal aja dulu: catat pengeluaran hari ini. Nggak usah langsung bikin sistem yang ribet. Kadang satu kebiasaan kecil yang dijalankan konsisten udah cukup buat nutup kebocoran yang selama ini nggak kelihatan.

Tags: keuangan pribadi pengeluaran traveling atur budget hemat saat perjalanan catatan keuangan